Jumat, 15 Agustus 2014

REFERNSI JURUSAN TEMPAT KULIAH

KMPP-UGM: Daftar Fakultas dan Jurusan di UGM tahun 2013: Berikut ini adalah daftar semua 18 fakultas dan keseluruhan 68 jurusan yang ditawarkan bagi para calon mahasiswa baru Universitas Gadja...

Rabu, 13 Agustus 2014

Bukuku Bukumu Buku Kita Semua




Saya persembahkan artikel saya (dibuat bersama sahabat-sahabat saya yaitu Deris Lailia Hidayati dan Sitya Dwi Suwarnigsih) ini yang pernah menjuarai lomba mengarang yang diadakan Perpustakaan Daerah Kota Salatiga kepada semua orang (terutama masyarakat Indonesia yang gampang ngantuk kalau disodori buku). Semoga bisa menjadi kunci dari banyaknya gembok ketertinggalan negara kita tercinta. ;)

Bukuku Bukumu Buku Kita Semua




            Semua orang pasti sudah tidak asing lagi dengan suatu kumpulan kertas yang berjilid dan berisi gambar atau tulisan. Benda tersebut adalah buku. Di antara sekian banyaknya, buku dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu novel, cergam, peta, ensiklopedia, dan lain-lain.
            Dalam dunia buku terdapat banyak sekali slogan dan pepatah untuk menarik orang lain agar mau membaca buku. Salah satunya adalah “Buku adalah Jendela Dunia”. Melalui jendela dunia tersebut setiap orang bisa melihat semua isi dunia. Selain itu, sebenarnya banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktifitas membaca, antara lain dapat menambah wawasan, ilmu pengatahuan, dan mengetahui informasi atas suatu kejadian. Membaca juga menjadi media yang jitu untuk menghilangkan stres, atau paling tidak rasa jenuh dan penat setelah seharian beraktivitas. Untuk menghilangkan kejenuhan, buku bersifat ringan dan menghibur sangatlah membantu, seperti novel, komik, maalah, cergam, dan sebagainya.
            Namun sayangnya, bagi kebayakan orang, membaca buku adalah suatu hal yang sangat membosankan dan menjenuhkan. Bahkan ada yang beranggapan lebih ekstrim, bahwa seseorang yang gemar membaca buku sama saja menyiksa diri dengan berdiam diri dihadapan buku. Orang-orang yang memandang buku dengan sebelah mata tersebut ternyata rata-rata adalah mereka memiliki minat baca yang sangat miris. Bagaimana tidak, cara pandang mereka mengenai buku cenderung negatif menjadi salah satu faktor penghambat untuk mengembangkan minat baca di Indonesia.
            Sebenarnya membaca merupakan aktivitas yang sangat mudah, tapi menjadi sukar karena sulit meluangkan waktu untuk melaksanakannya. Apalagi di era globilisasi yang dipenuhi berbagai macam teknologi canggih, membaca tudak lagi menjadi rutinitas hidup melainkan pekerjaan sampingan. Bahkan untuk membaca pun kini harus ada unsur paksaan, yaitu ketika menjelang ujian atau melakukan tugas-tugas tertentu. Mungkin itulah salah satu penyebab rendahnya kualitas sumber daya manusia di negeri ini.
            Ketidakgemaran membaca buku membuat kita merasa sangat kecil, dunia terasa sempit dan hampa dikarenakan sedikitnya informasi yang diperoleh. Padahal informasi dan ilmu pengetahuan tidak akan pernah habis bila terus kita pelajari dan semakin lama semakin berkembang pesat dari waktu ke waktu. Kita sebagai manusia yang paling sempurna dan diberi akal yang lebih baik dibanding mahkluk lain seharusnya mau dan mampu menelaah lebih dalam ilmu pengatahuan. Banyak sekali jendela-jendela dunia yang terhampar luas. Salah satu kunci terbesar untuk mencapai itu semua adalah dengan membaca. Akan tetapi, dunia tidak adan pernah kita lihat bila jendela tersebut belum dibuka dan kita masih menutup mata. Sekarang tinggal bagaimana cara kita untuk menumbuhkan dan memupuk sikap gemar membaca di mana pun kita berada.
            Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan minat baca. Kita bisa mulai dari diri sendiri, rumah atau keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan dan akhirnya pada perpustakaan umum.
1.      Diri Sendiri
Menurut Hernowo dalam buku best seller-nya yang berjudul “Mengikat Makna”, langkah awal yang harus kita lakukan adalah dengan mengubah cara pandang kita pada buku. Menurutnya, buku sama saja dengan makanan rohani yang sangat bergizi. Membaca buku dengan menganggap buku sebagai makanan kesukaan maka kita dapat memperlakukan buku layaknya makanan tersebut. Dilanjutkan dengan mengenali atau melakukan pengenalan dengan buku yang akan dibaca, bisa mengetahui pengarangnya dahulu atau intisari dari bacaan tersebut atau meminta seseorang untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik yang ada pada buku itu. Langkah terakhir, kita bisa membaca sambil makan-makanan ringan agar pikiran tidak terlalu tegang dan tetap rileks dengan isi bacaan.
2.      Rumah atau Keluarga
Segala sesuatu diawali dari rumah dan orang tua adalah pendidik pertama putra-putrinya. Oleh karena itu, dalam soal membaca pun, rumah adalah pangkalnya. Jika orang tua cinta buku dan gemar membacanya, bisa diharapkan anak-anaknya pun demikian. Orang tua yang mampu membelikan anak-anaknya mainan canggih dan mahal, pastinya juga mempu membelikannya buku-buku yang menarik sekaligus bersifat mendidik. Seorang anak memang memerlukan mainan, namun karena mainan tidak menuntut keaktifan pikiran dan imajinasi, harus diimbangi dengan sesuatu yang bisa membantu anak berpikir dan berimajinasi, yaitu buku. Hal lain yang dapat dilakukan mendidik anak menjadi gemar membaca adalah mengajarkan anak selalu membaca buku kemana pun pergi, membuat perpustakaan mini atau paling tidak ruang baca untuk keluarga, menabung atau menyisihkan uang untuk membeli buku dan melengkapi koleksi buku, serta mengajak keluarga berkunjung ke perpustakaan daerah sebagai tempat rekreasi saat hari libur atau liburan sekolah.
3.      Masyarakat
Masyarakat luas seharusnya juga ikut membantu menanamkan minat baca pada generasi muda. Di Indonesia ada cukup banyak orang yang berkelebihan harta. Apabila sebagian mereka menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu biaya pengembangan atau pembuatan taman baca di setiap dusun atau desa, pastinya hal itu sangatlah bermanfaat dan membantu.
4.      Lembaga Pendidikan
Setiap sekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah baik negeri maupun swasta seharusnya mempunyai perpustakaan. Ruang perpustakaan harus cukup luas, bersih, memiliki penerangan cukup, buku-buku tertata rapi, akan membuat siswa senang mengunjungi perpustakaan dan betah berada di dalamnya. Cara lain untuk menarik para siswa masuk ke perpustakaan adalah dengan memberi tugas atau pekerjaan rumah yang berhubungan dengan buku. Misalnya siswa diminta membuat laporan setelah membaca buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Mereka bisa menuliskan kesan-kesan pribadi mereka setelah membaca suatu buku. Siswa akan memiliki kesan yang lebih mendalam kalau mereka sendiri yang menemukan data atau keterangan itu melalui buku. Di samping itu, mereka akan terbiasa membaca buku atau mengunjungi perpustakaan apabila membutuhkan informasi. Guru sebetulnya bisa memberikan jawaban serta merta atau menyuruh mereka menyelesaikan tugas dengan internet. Selain itu meminta siswa untuk mencari tugas di internet sangat lebih membantu dan jauh lebih mudah, namun hal ini justru membuat mereka malas membuka apalagi membaca buku.
5.      Perpustakaan Umum
Perpustakaan umum juga bisa berbuat lebih banyak dari pada sekadar menunggu masyarakat untuk mengunjunginya. Perpustakaan harus berjuang keras untuk menarik simpati calon pengunjung. Maka dari itu, perpustakaan harus membuat langkah-langkah pancingan. Pancingan yang dimaksud dapat berupa program atau acara yang menarik dan mengundang perhatian, misalnya :
a.       Pemutaran film-film dokumenter setiap hari besar nasional.
b.      Mengadakan jumpa pengarang dengan penggemarnya.
c.       Membuat acara bedah buku.
d.      Mengadakan pameran buku serta bazar buku.
e.       Membuat berbagai ajang lomba, seperti lomba mengarang, lomba mewarnai atau melukis, lomba membaca puisi, dan lain-lain.
f.       Setahun sekali perpustakaan umum bisa memberi penghargaan (misal : piala, piagam, sejumlah uang tunai, dan satu paket buku bacaan) kepada pengunjung terrajin, pengunjung terdisiplin dan peminjam buku terbanyak.
g.      Setiap bulan buku nasional, perpustakaan umum bisa mengadakan berbagai acara, misalnya mengadakan lomba dengan ketentuan para peserta diharuskan mencari buku-buku tertuntu yang ada di dalam perpustakaan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Para peserta dituntut untuk mengenal sistem penomoran buku (Dewey Decimal System) dan dituntut mengenal “medan” sebelum berlomba. Itu artinya mereka sebelumnya harus akrab dengan perpustakaan.
Perpustakaan harus dikenal masyarakat. Pengenalan perpustakaan ini dapat dilakukan dengan menyebarkan brosur atau memasang spanduk yang berisi ajakan untuk berkunjung ke perpustakaan. Kartu anggoota perpustakaan umum dapat disosialisasikan ke tiap lembaga pendidikan (sekolah, pesantren, yayasan). Setiap siswa diminta untuk mengisi formulir pendaftaran guna membuat kartu anggota perpustakaan yang bersifat wajib bagi anak sekolah. Selain itu, perpustakaan keliling yang sudah ada sekarang ini perlu ditingkatkan dan diperluas jangkauannya dengan penambahan armada dan koleksi setiap tahunnya. Dengan begitu perpustakaan keliling diharapkan bisa menjangkau tiap daerah atau lembaga pendidikan setiap harinya
      Kegiatan pembudayaan membaca merupakan sebuah proses yang sangat panjang. Oleh sebab itu, diperlukan kerja keras dan kerja sama dalam memperbaiki kualitas minat baca dikalangan masyarakat Indonesia. Tindakan yang lebih lanjut serta dorongan dari berbagai pihak pun dibutuhkan untuk menggugah semangat membaca masyarakat Indonesia. Bila semua hal tersebut dilakukan, tidak menjadi hal yang mustahil lagi bila seseorang yang awalnya alergi buku menjadi sang pecinta buku.

Senin, 04 Agustus 2014

Kenal Lebih Dekat, Yuk!




Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Guys... Sedikit basa-basi nih. Gak pa-pa to? Itung-itung biar tambah kenal. Hehehe... Yakin deh, pasti kamu-kamu udah pada hafal banget kan dengan pepatah “gak kenal maka gak sayang”. Berhubung aku pengen banget disayang-sayang sama kamu *acuhkan*, maka kesempatan emas ini mau aku manfaatin.

First,  jangan tanya ke aku “Who are you?”. Because bisa-bisa jari telunjuk bin lentikku bakal refleks nempel di my flat nose. Terus aku bengong kayak gak punya dosa dan jawab, “ Me? Who am i?” #nahLo
Ya udah deh, langsung cuz aja. Kenalin, nama aku adalah huruf abjad pertama + huruf abjad terakhir + huruf abjad terakhir  + huruf abjad pertama. Sampeyan dapat mengeja kan? Yupz, pintar. Namaku A Z Z A. Kalo nama panjangku ya AAAAAAAAZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZAAAAAAAAAAAAAAAAAAA. #hehehe

Second. Oh iya, ortu ngasih aku nama yang indah banget. Al Azza Khuma Izah. Bagus kan? Dan alhamdulillah, setiap kali aku nanya apa arti namaku mereka kagak tahu. #fiiuuuhh. Padahal nama kan doa. Masa’ ngasih doa tapi kagak ngerti maksud and maknanya. Bukan cuma itu, dari sekian banyak orang yang kutanya apa arti namaku, sekali lagi alhamdulillah, mereka juga kagak tahu.
Aku makin merasa kalau aku bukan siapa-siapa. Nama yang kelihatannya islami banget sebenarnya membuatku galau. Pernah terpikir, buat apa aku ada di dunia kalau aku sendiri tidak mengenal diriku. Okey... Mulai saat itu pencarian jati diri always become my adventure. Aku juga aneh sih, jati diri kok dicari. Jati diri ‘kan udah lama berdiri kokoh di Semarang. :D

Next, berbagai gunung aku daki.  Samudra aku seberangi. Keringat darah meluncur deras pun tak aku hiraukan. #Lebay. Meski gitu, aku tetap bersyukur.  Bersyukur kalo aku ternyata anak kutu buku. Melahap habis buku yang bikin aku penasaran. Perpustakaan juga sering jadi sumur ilmu dan goa semedi. Hingga akhirnya aku iseng baca buku arti nama-nama untuk bayi. Kubuka-buka. Dan ciiiiiiaaaaaaaaaaaa. Namaku ada di sana. Coba tebak apa artinya? Menurut buku yang aku baca, “Azza” berarti kehormatan, perhiasan. Sedangkan “Izzah” berarti kemuliaan. Entah kalo Khuma, sejauh pencariaanku belum terdeteksi. Jadi kubuat kesimpulan bahwa aku adalah seseorang yang menjadi perhiasan dan menjaga kehormatan plus kemuliaan.

The last, sampai di sini dulu ya mbak Sist and mas Bro. Azza tahu masih penasaran. *GeeR* Lain kali edisi #KenalLebihDekatYuk aku sambung lagi, deh.

 Akhir kata, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. ^_^

*TO BE CONTINUE*