Saya persembahkan artikel saya (dibuat bersama sahabat-sahabat saya yaitu Deris Lailia Hidayati dan Sitya Dwi Suwarnigsih) ini yang pernah menjuarai lomba mengarang yang diadakan Perpustakaan Daerah Kota Salatiga kepada semua orang (terutama masyarakat Indonesia yang gampang ngantuk kalau disodori buku). Semoga bisa menjadi kunci dari banyaknya gembok ketertinggalan negara kita tercinta. ;)
Bukuku Bukumu Buku Kita Semua
Semua orang pasti sudah tidak asing
lagi dengan suatu kumpulan kertas yang berjilid dan berisi gambar atau tulisan.
Benda tersebut adalah buku. Di antara sekian banyaknya, buku dapat dibedakan
menjadi beberapa jenis, yaitu novel, cergam, peta, ensiklopedia, dan lain-lain.
Dalam dunia buku terdapat banyak sekali
slogan dan pepatah untuk menarik orang lain agar mau membaca buku. Salah
satunya adalah “Buku adalah Jendela Dunia”. Melalui jendela dunia tersebut
setiap orang bisa melihat semua isi dunia. Selain itu, sebenarnya banyak
manfaat yang bisa diperoleh dari aktifitas membaca, antara lain dapat menambah
wawasan, ilmu pengatahuan, dan mengetahui informasi atas suatu kejadian. Membaca
juga menjadi media yang jitu untuk menghilangkan stres, atau paling tidak rasa
jenuh dan penat setelah seharian beraktivitas. Untuk menghilangkan kejenuhan,
buku bersifat ringan dan menghibur sangatlah membantu, seperti novel, komik,
maalah, cergam, dan sebagainya.
Namun sayangnya, bagi kebayakan
orang, membaca buku adalah suatu hal yang sangat membosankan dan menjenuhkan.
Bahkan ada yang beranggapan lebih ekstrim, bahwa seseorang yang gemar membaca
buku sama saja menyiksa diri dengan berdiam diri dihadapan buku. Orang-orang
yang memandang buku dengan sebelah mata tersebut ternyata rata-rata adalah
mereka memiliki minat baca yang sangat miris. Bagaimana tidak, cara pandang
mereka mengenai buku cenderung negatif menjadi salah satu faktor penghambat untuk
mengembangkan minat baca di Indonesia.
Sebenarnya membaca merupakan
aktivitas yang sangat mudah, tapi menjadi sukar karena sulit meluangkan waktu
untuk melaksanakannya. Apalagi di era globilisasi yang dipenuhi berbagai macam
teknologi canggih, membaca tudak lagi menjadi rutinitas hidup melainkan
pekerjaan sampingan. Bahkan untuk membaca pun kini harus ada unsur paksaan,
yaitu ketika menjelang ujian atau melakukan tugas-tugas tertentu. Mungkin
itulah salah satu penyebab rendahnya kualitas sumber daya manusia di negeri
ini.
Ketidakgemaran membaca buku membuat
kita merasa sangat kecil, dunia terasa sempit dan hampa dikarenakan sedikitnya
informasi yang diperoleh. Padahal informasi dan ilmu pengetahuan tidak akan
pernah habis bila terus kita pelajari dan semakin lama semakin berkembang pesat
dari waktu ke waktu. Kita sebagai manusia yang paling sempurna dan diberi akal
yang lebih baik dibanding mahkluk lain seharusnya mau dan mampu menelaah lebih
dalam ilmu pengatahuan. Banyak sekali jendela-jendela dunia yang terhampar
luas. Salah satu kunci terbesar untuk mencapai itu semua adalah dengan membaca.
Akan tetapi, dunia tidak adan pernah kita lihat bila jendela tersebut belum
dibuka dan kita masih menutup mata. Sekarang tinggal bagaimana cara kita untuk
menumbuhkan dan memupuk sikap gemar membaca di mana pun kita berada.
Ada beberapa hal yang bisa kita
lakukan untuk menumbuhkan minat baca. Kita bisa mulai dari diri sendiri, rumah
atau keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan dan akhirnya pada perpustakaan
umum.
1. Diri
Sendiri
Menurut Hernowo dalam buku best
seller-nya yang berjudul “Mengikat Makna”, langkah awal yang harus kita lakukan
adalah dengan mengubah cara pandang kita pada buku. Menurutnya, buku sama saja
dengan makanan rohani yang sangat bergizi. Membaca buku dengan menganggap buku
sebagai makanan kesukaan maka kita dapat memperlakukan buku layaknya makanan
tersebut. Dilanjutkan dengan mengenali atau melakukan pengenalan dengan buku
yang akan dibaca, bisa mengetahui pengarangnya dahulu atau intisari dari bacaan
tersebut atau meminta seseorang untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik
yang ada pada buku itu. Langkah terakhir, kita bisa membaca sambil
makan-makanan ringan agar pikiran tidak terlalu tegang dan tetap rileks dengan
isi bacaan.
2. Rumah
atau Keluarga
Segala sesuatu diawali dari rumah dan
orang tua adalah pendidik pertama putra-putrinya. Oleh karena itu, dalam soal
membaca pun, rumah adalah pangkalnya. Jika orang tua cinta buku dan gemar
membacanya, bisa diharapkan anak-anaknya pun demikian. Orang tua yang mampu
membelikan anak-anaknya mainan canggih dan mahal, pastinya juga mempu
membelikannya buku-buku yang menarik sekaligus bersifat mendidik. Seorang anak
memang memerlukan mainan, namun karena mainan tidak menuntut keaktifan pikiran
dan imajinasi, harus diimbangi dengan sesuatu yang bisa membantu anak berpikir
dan berimajinasi, yaitu buku. Hal lain yang dapat dilakukan mendidik anak
menjadi gemar membaca adalah mengajarkan anak selalu membaca buku kemana pun
pergi, membuat perpustakaan mini atau paling tidak ruang baca untuk keluarga,
menabung atau menyisihkan uang untuk membeli buku dan melengkapi koleksi buku,
serta mengajak keluarga berkunjung ke perpustakaan daerah sebagai tempat
rekreasi saat hari libur atau liburan sekolah.
3. Masyarakat
Masyarakat luas seharusnya juga ikut
membantu menanamkan minat baca pada generasi muda. Di Indonesia ada cukup
banyak orang yang berkelebihan harta. Apabila sebagian mereka menyisihkan
sebagian hartanya untuk membantu biaya pengembangan atau pembuatan taman baca
di setiap dusun atau desa, pastinya hal itu sangatlah bermanfaat dan membantu.
4. Lembaga
Pendidikan
Setiap sekolah, dari sekolah dasar
hingga sekolah menengah baik negeri maupun swasta seharusnya mempunyai
perpustakaan. Ruang perpustakaan harus cukup luas, bersih, memiliki penerangan
cukup, buku-buku tertata rapi, akan membuat siswa senang mengunjungi
perpustakaan dan betah berada di dalamnya. Cara lain untuk menarik para siswa
masuk ke perpustakaan adalah dengan memberi tugas atau pekerjaan rumah yang
berhubungan dengan buku. Misalnya siswa diminta membuat laporan setelah membaca
buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Mereka bisa menuliskan kesan-kesan pribadi
mereka setelah membaca suatu buku. Siswa akan memiliki kesan yang lebih
mendalam kalau mereka sendiri yang menemukan data atau keterangan itu melalui
buku. Di samping itu, mereka akan terbiasa membaca buku atau mengunjungi
perpustakaan apabila membutuhkan informasi. Guru sebetulnya bisa memberikan
jawaban serta merta atau menyuruh mereka menyelesaikan tugas dengan internet.
Selain itu meminta siswa untuk mencari tugas di internet sangat lebih membantu
dan jauh lebih mudah, namun hal ini justru membuat mereka malas membuka apalagi
membaca buku.
5. Perpustakaan
Umum
Perpustakaan
umum juga bisa berbuat lebih banyak dari pada sekadar menunggu masyarakat untuk
mengunjunginya. Perpustakaan harus berjuang keras untuk menarik simpati calon
pengunjung. Maka dari itu, perpustakaan harus membuat langkah-langkah
pancingan. Pancingan yang dimaksud dapat berupa program atau acara yang menarik
dan mengundang perhatian, misalnya :
a. Pemutaran
film-film dokumenter setiap hari besar nasional.
b. Mengadakan
jumpa pengarang dengan penggemarnya.
c. Membuat
acara bedah buku.
d. Mengadakan
pameran buku serta bazar buku.
e. Membuat
berbagai ajang lomba, seperti lomba mengarang, lomba mewarnai atau melukis,
lomba membaca puisi, dan lain-lain.
f. Setahun
sekali perpustakaan umum bisa memberi penghargaan (misal : piala, piagam,
sejumlah uang tunai, dan satu paket buku bacaan) kepada pengunjung terrajin,
pengunjung terdisiplin dan peminjam buku terbanyak.
g. Setiap
bulan buku nasional, perpustakaan umum bisa mengadakan berbagai acara, misalnya
mengadakan lomba dengan ketentuan para peserta diharuskan mencari buku-buku
tertuntu yang ada di dalam perpustakaan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Para
peserta dituntut untuk mengenal sistem penomoran buku (Dewey Decimal System)
dan dituntut mengenal “medan” sebelum berlomba. Itu artinya mereka sebelumnya
harus akrab dengan perpustakaan.
Perpustakaan harus dikenal masyarakat.
Pengenalan perpustakaan ini dapat dilakukan dengan menyebarkan brosur atau
memasang spanduk yang berisi ajakan untuk berkunjung ke perpustakaan. Kartu
anggoota perpustakaan umum dapat disosialisasikan ke tiap lembaga pendidikan
(sekolah, pesantren, yayasan). Setiap siswa diminta untuk mengisi formulir
pendaftaran guna membuat kartu anggota perpustakaan yang bersifat wajib bagi
anak sekolah. Selain itu, perpustakaan keliling yang sudah ada sekarang ini
perlu ditingkatkan dan diperluas jangkauannya dengan penambahan armada dan
koleksi setiap tahunnya. Dengan begitu perpustakaan keliling diharapkan bisa
menjangkau tiap daerah atau lembaga pendidikan setiap harinya
Kegiatan
pembudayaan membaca merupakan sebuah proses yang sangat panjang. Oleh sebab
itu, diperlukan kerja keras dan kerja sama dalam memperbaiki kualitas minat
baca dikalangan masyarakat Indonesia. Tindakan yang lebih lanjut serta dorongan
dari berbagai pihak pun dibutuhkan untuk menggugah semangat membaca masyarakat
Indonesia. Bila semua hal tersebut dilakukan, tidak menjadi hal yang mustahil
lagi bila seseorang yang awalnya alergi buku menjadi sang pecinta buku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar